<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>OPTIK NISNA</title>
	<atom:link href="http://www.optiknisna.info/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.optiknisna.info</link>
	<description>smart 'n professional in glasses work</description>
	<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 00:52:07 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Softlens Dan Kacamata Lebih Bagus Mana?</title>
		<link>http://www.optiknisna.info/softlens-dan-kacamata-lebih-bagus-mana.html</link>
		<comments>http://www.optiknisna.info/softlens-dan-kacamata-lebih-bagus-mana.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 08:27:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paknenisna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Kacamata]]></category>

		<category><![CDATA[Lensa Kontak]]></category>

		<category><![CDATA[anisometropia]]></category>

		<category><![CDATA[perbandingan softlens dan kacamata]]></category>

		<category><![CDATA[softlens]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.optiknisna.info/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan yang membandingkan ini ternyata masih sering saya terima dari para pengunjung optik saya, terutama pemakai kacamata yang ingin mencoba/beralih ke softlens. Seperti biasa, saya tidak mengemukakan jawaban yang meng-gebyah uyah (menggeneralisir) bahwa softlens lebih bagus dari pada kacamata, atau sebaliknya. Semuanya saya rujukkan pada situasi dan kondisi penanya. Jadi, jawaban yang diterima oleh penanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan yang membandingkan ini ternyata masih sering saya terima dari para pengunjung <a class="post-link" href="sekarang-di-optik-nisna.html">optik saya</a>, terutama pemakai kacamata yang ingin mencoba/beralih ke <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/softlens-salah-satu-jenis-lensa-kontak.html">softlens</a>. Seperti biasa, saya tidak mengemukakan jawaban yang meng-<em>gebyah uyah</em> (menggeneralisir) bahwa softlens lebih bagus dari pada kacamata, atau sebaliknya. Semuanya saya rujukkan pada situasi dan kondisi penanya. Jadi, jawaban yang diterima oleh penanya <span id="more-82"></span>A belum tentu berlaku untuk penanya B.<br />
<br />
Seperti sudah saya tulis <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/keunggulan-lensa-kontak-dalam-meningkatkan-tajam-penglihatan.html">di artikel yang ini</a>, kinerja optis lensa kontak (termasuk juga softlens) memang memiliki keunggulan bila dibandingkan dengan kacamata. Namun ini bukan berarti bahwa softlens merupakan solusi terbaik untuk mengatasi kaburnya penglihatan akibat kelainan refraksi (<a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/myopia.html">myopia</a>, <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/hypermetropia.html">hypermetropia</a>, <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/astigmatisme.html">astigmatisme</a>, <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/presbyopia.html">presbyopia</a>). Penentuan mana yang terbaik, harus mempertimbangkan kondisi yang ada pada penderita kelainan refraksi tersebut.<br />
<br />
Softlens akan lebih bagus dari kacamata jika:</p>
<ol>
<li>Calon pemakai tidak memiliki riwayat alergi, karena dikhawatirkan akan tidak tahan dengan produk-produk kimia yang digunakan dalam perawatan softlens. Jika calon pemakai memiliki riwayat alergi, sebaiknya konsultasikan dahulu dengan dokter spesialis mata, apakah boleh memakai softlens atau tidak.</li>
<li>Belum pernah menjalani operasi mata, terutama yang mengakibatkan perubahan bentuk/kontur kornea. Pemakaian softlens untuk mereka yang pernah menjalani operasi mata sebaiknya sudah mendapat persetujuan dokter yang berkompeten.</li>
<li>Tidak memiliki kelainan bentuk kornea yang terlalu rata/flat (<a class="post-link" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cornea_plana_1"><em>cornea plana</em></a>) maupun yang terlalu mengerucut (<a class="post-link" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Keratoconus"><em>keratoconus</em></a>). Kedua kelainan bentuk kornea tersebut akan dapat menyebabkan softlens/lensa kontak tidak dapat fit/terpasang secara ideal).</li>
<li>Tidak memiliki kelainan <em>palpebra</em> (kelopak mata) yang mempersulit pemasangan dan pelepasan softlens, atau yang menyebabkan kedudukan softlens tidak ideal.</li>
<li>Tidak bekerja di lingkungan yang berdebu, bersuhu tinggi, atau pun beruap bahan kimia (misalnya di pom bensin, area pengecatan mobil, dll).</li>
<li>Terdapat kasus anisometropia tinggi, yaitu mata kanan dan kiri memerlukan ukuran lensa yang berbeda jauh. Pemakaian softlens dalam kasus ini tentu saja juga harus memenuhi 5 persyaratan di atas.</li>
</ol>
<p>
Jika kelima persyaratan yang disebutkan di atas tidak dapat dipenuhi, maka kacamata akan menjadi solusi yang lebih bagus dari pada softlens. Jika terdapat kasus anisometropia tinggi namun tidak dapat memenuhi kelima persyaratan diatas, maka solusi terbaiknya adalah dengan menjalani operasi LASIK, meskipun untuk itu juga harus memenuhi beberapa persyaratan lagi.<br />
<br />
Khusus bagi para pengusaha atau pemilik optik, tentunya akan lebih bagus kacamata dari pada softlens. <img src='http://www.optiknisna.info/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.optiknisna.info/softlens-dan-kacamata-lebih-bagus-mana.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Keunggulan Lensa Kontak Dalam Meningkatkan Tajam Penglihatan</title>
		<link>http://www.optiknisna.info/keunggulan-lensa-kontak-dalam-meningkatkan-tajam-penglihatan.html</link>
		<comments>http://www.optiknisna.info/keunggulan-lensa-kontak-dalam-meningkatkan-tajam-penglihatan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 12:15:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paknenisna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Lensa Kontak]]></category>

		<category><![CDATA[ametropia]]></category>

		<category><![CDATA[anisokonia]]></category>

		<category><![CDATA[anisometropia]]></category>

		<category><![CDATA[softlens]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.optiknisna.info/keunggulan-lensa-kontak-dalam-meningkatkan-tajam-penglihatan.html</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan tentang keunggulan lensa kontak ini sebenarnya sudah dipersiapkan (secara offline) sejak lebih dari 1 bulan yang lalu. Namun kemudian prioritas penyelesaiannya dikalahkan dengan aplikasi/program Sistem Administrasi Optikal yang saya buat dalam waktu hampir bersamaan. Baru sesudah aplikasi tersebut berjalan sesuai dengan yang saya harapkan, tulisan ini pun mendapatkan gilirannya. Sebelum meneruskan kembali penyelesaian tulisan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan tentang keunggulan lensa kontak ini sebenarnya sudah dipersiapkan (secara offline) sejak lebih dari 1 bulan yang lalu. Namun kemudian prioritas penyelesaiannya <strike>di</strike>kalah<strike>kan</strike> dengan aplikasi/program <a class="post-link" href="http://optiknisna.info/software-administrasi-optik-untuk-manajemen-data-pasien-yang-lebih-baik.html">Sistem Administrasi Optikal</a> yang saya buat dalam waktu hampir bersamaan. Baru sesudah aplikasi tersebut berjalan sesuai dengan yang saya harapkan, tulisan ini pun mendapatkan gilirannya.<span id="more-65"></span> Sebelum meneruskan kembali penyelesaian tulisan ini, saya sempatkan untuk <em>gogling</em> dengan kata kunci &#8220;keunggulan lensa kontak&#8221; dan membuka belasan halaman hasil pencarian. Ternyata tidak menemukan tulisan/artikel dalam Bahasa Indonesia yang membahas tentang hal tersebut secara cukup mendalam. Jadi, mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi pengisi ketidakberadaan tersebut.<br />
<br />
Di samping beberapa kekurangan yang dimilikinya, lensa kontak memiliki keunggulan yang sangat sulit bisa didapatkan dari kacamata, terutama mengenai kemampuannya dalam memperbaiki tajam penglihatan yang berkurang akibat kelainan refraksi. Beberapa keunggulan yang sangat pantas untuk menjadi bahan pertimbangan dalam memilih metode perbaikan tajam penglihatan tersebut adalah:<br />
</p>
<ol>
<li><strong>Perbesaran/Magnifikasi Yang Sangat Minim.</strong><br />
Bayangan/image obyek yang dibentuk oleh lensa cembung maupun cekung akan mengalami magnifikasi dari ukuran obyek aslinya. Bayangan akan lebih besar jika magnifikasi tersebut bernilai positif, dan akan lebih kecil jika magnifikasinya bernilai negatif. Besar nilai magnifikasi tersebut berbanding lurus dengan jarak antara lensa ke layar atau ke sistem optis berikutnya (bolamata juga merupakan suatu sistem optis).<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/kcmtdanlk.jpg" align="middle" alt="letak soflen dan kacamata" /><br />
Posisi lensa kontak dan efeknya sebagaimana digambarkan pada ilustrasi di atas membuat fenomena <em>anisokonia</em> (perbedaan ukuran bayangan pada retina mata kanan dan retina mata kiri) yang terjadi pada pemakaian lensa yang berbeda ukuran antara mata kanan dan kiri juga menjadi sangat minimal. Keuntungan dari ini adalah: Penderita <em>anisometropia</em> tinggi (mata kanan dan kiri membutuhkan lensa koreksi yang sangat jauh berbeda) dapat memakai lensa kontak yang ukuran dioptrinya berbeda jauh (>3.00 dioptri) untuk mata kanan dan kiri. Untuk pemakaian kacamata, kasus <em>anisometropia</em> seperti itu tentu membutuhkan penanganan khusus.</li>
<p></p>
<li><strong>Mampu Mengkoreksi <em>Irregular Astigmatism</em> (Silindris Tak Beraturan).</strong><br />
Ini hanya berlaku pada lensa kontak kaku (rigid), bukan pada soflen. Juga hanya pada <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/mata-cylindris-ternyata-ada-beberapa-jenis.html">astigmat ireguler</a> yang terjadi karena ketidakberaturan kontur kornea, bukan oleh astigmat internal. Untuk mengetahui astigmat/silindris yang terjadi disebabkan oleh faktor kornea atau faktor internal bolamata, membutuhkan pemeriksaan kontur kornea. Refraksionis Optisien yang berpengetahuan cukup pasti akan mampu melakukannya, asal di optikalnya tersedia (minimal) keratometer dan slitlamp.<br />
Sebagaimana tergambarkan pada ilustrasi di atas, sebenarnya lensa kontak tidak menempel secara ketat atau bersentuhan langsung pada kornea, tetapi mengambang pada molekul-molekul air mata yang membentuk lapisan tipis airmata (<em>tearfilm</em>). Lapisan air mata ini akan mengisi relung-relung pada permukaan kornea dan berlaku seakan-akan merupakan lensa tambahan yang berada diantara kornea dan lensa kontak. &#8220;Lensa tambahan&#8221; inilah yang akan mengkoreksi astigmat ireguler tersebut. Bukan hanya pada kasus astigmat iregular saja lensa kontak ini mampu memberikan keuntungan, tapi juga pada kasus <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/mata-cylindris-ternyata-ada-beberapa-jenis.html">astigmat reguler</a>. Jika silindris korneanya cukup kecil (tidak lebih dari 0,5), akan dapat terkoreksi oleh lensa kontak ini, meskipun lensa kontak yang dipakai tidak berukuran silindris. Pada kasus astigmat ireguler pun ada hal-hal yang membuatnya tidak dapat terkoreksi oleh lensa kontak, yaitu ketika lapisan airmata tidak mampu mengisi celah antara kornea dengan lensa kontak secara optimal.</li>
<p></p>
<li><strong>Lapang Pandang Yang Lebih Luas.</strong><br />
Karena letaknya yang menempel ke kornea dan mengikuti gerakan bolamata, garis/sumbu pandang bolamata akan selalu tepat pada pusat optik lensa sehingga membuat pemakai lensa kontak tetap mendapatkan penglihatan yang tajam dan jelas saat mata melirik ke segala penjuru. Sensasi kebebasan memandang ini tidak dapat diperoleh dari pemakaian kacamata, terutama jika ukuran dioptri lensanya sudah tinggi (>6.00 D). Pemakai kacamata ber-dioptri tinggi akan merasakan penglihatan yang lebih kabur pada saat melirik ke kanan atau ke kiri. Ini terjadi karena lensa kacamata terpasang menetap/mati sehingga pada saat mata melirik, garis/sumbu pandang mata menjadi lepas/bergeser dari pusat optik lensa. Jadi, ketajaman penglihatan yang optimum pada kacamata hanya didapat pada saat memandang lurus saja.</li>
</ol>
<p>Mungkin keunggulan terakhir ini yang membuat banyak bapak-bapak tetap memakai kacamata meskipun minusnya cukup tinggi. Kenapa? Karena dilarang oleh istrinya. <img src='http://www.optiknisna.info/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.optiknisna.info/keunggulan-lensa-kontak-dalam-meningkatkan-tajam-penglihatan.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Software Administrasi Optik Mengatur Data Pasien Lebih Baik</title>
		<link>http://www.optiknisna.info/software-administrasi-optik-untuk-manajemen-data-pasien-yang-lebih-baik.html</link>
		<comments>http://www.optiknisna.info/software-administrasi-optik-untuk-manajemen-data-pasien-yang-lebih-baik.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 16:03:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paknenisna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Infoptika]]></category>

		<category><![CDATA[Komputer]]></category>

		<category><![CDATA[Serbaneka]]></category>

		<category><![CDATA[administrasi optik]]></category>

		<category><![CDATA[manajemen optik]]></category>

		<category><![CDATA[program optik]]></category>

		<category><![CDATA[software]]></category>

		<category><![CDATA[software optik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://optiknisna.info/software-administrasi-optik-untuk-manajemen-data-pasien-yang-lebih-baik.html</guid>
		<description><![CDATA[Pada dekade awal saya berkecimpung dalam dunia optik (belasan tahun yang lalu), software developer baik institusional maupun personal belum lah sebanyak saat ini. Penawaran-penawaran aplikasi yang ditujukan untuk mempermudah pengelolaan administrasi suatu lembaga, belum lah semarak sekarang ini. Pada masa itu, mencari dan menemukan data-data hasil pemeriksaan refraksi lama dari seorang pasien bisa menjadi mimpi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada dekade awal saya berkecimpung dalam dunia optik (belasan tahun yang lalu), <em>software developer</em> baik institusional maupun personal belum lah sebanyak saat ini. Penawaran-penawaran aplikasi yang ditujukan untuk mempermudah pengelolaan administrasi suatu lembaga, belum lah semarak sekarang ini. Pada masa itu, mencari dan menemukan data-data hasil pemeriksaan refraksi lama dari seorang pasien bisa menjadi mimpi buruk bagi saya.<span id="more-64"></span> Terbatasnya sumber daya manusia yang menangani sistem administrasi, dan kompleksnya sifat/karakteristik data yang harus ditangani membuat sistem administrasi yang ada saat itu menjadi sangat jauh dari memadai, bahkan boleh dibilang kusut.<br />
<br />
Ketika sekitar 6 tahunan yang lalu saya mulai mengenal komputer, saya sangat berharap agar saya dapat segera mengkomputerisasikan seluruh kegiatan administrasi dalam optik yang saya kelola (waktu itu masih mengelola optik milik mertua). Pada awalnya saya mencoba belajar dan mengandalkan Ms.Excel, sebuah aplikasi <em>spreadsheet</em> yang merupakan bagian dari paket <em>software</em> Microsoft Office. Namun, karena kompleksnya administrasi yang dituntut dalam penyelenggaraan optik yang baik, saya merasa sangat kerepotan. Terlalu banyaknya kolom data yang harus dibuat mengakibatkan <em>spreadsheet</em> menjadi memanjang ke arah horisontal dan memusingkan pencarian data. Apalagi bila jumlah baris datanya sudah mencapai ratusan atau bahkan ribuan.<br />
<br />
Lebih kurang 5 bulan sejak saya mengenal komputer, internet pun mulai memasuki ranah pengetahuan saya. Dari media internet itu lah saya tahu mengenai apa yang disebut basis data atau <em>database</em>. Sejak itu pula lah saya menyadari bahwa dalam paket <em>software</em> Microsoft Office yang terinstal di komputer saya juga terdapat aplikasi untuk membuat <em>database</em>. Ya, Ms.Access. Saya pun tergelitik untuk mulai mempelajarinya. Beberapa buku referensi saya beli. Tagihan dari Telkom pun membengkak lebih dari 500 ribu rupiah karena saya juga berusaha mendapatkan referensi dari internet (waktu itu biaya internetan jauh lebih mahal dari pada sekarang ini), baik melalui <em>mailing list</em> (Mailplus, mailing list pertama yang saya ikuti. Sampai saat ini saya masih menjadi anggotanya) mau pun artikel-artikel yang ditulis di situs-situs pembelajaran komputer.<br />
<br />
Membuat basis data untuk mengadministrasi optik ternyata jauh lebih sulit dari yang saya bayangkan. Lebih mudah memahami <em>tool-tool</em> yang terdapat dalam Ms.Access dari pada memahami pembuatan struktur <em>database</em> yang benar, juga normalisasi tabel-tabelnya. Belum lagi saya terbentur pada keunikan administrasi optik yang harus menggabungkan administrasi data pasien, administrasi penjualan (<em>point of sales</em>) dan administrasi jasa (layanan perbaikan atau pemasangan lensa, seperti administrasi bengkel). Elemen <em>point of sales</em>-nya sendiri juga memiliki keunikan, harus mampu menampung sifat <em>negotiable price</em> yang masih diberlakukan di kebanyakan optik kelas menengah ke bawah.<br />
<br />
Setelah beberapa kali <em>trial &#8216;n error</em>, pertengahan 2007 yang lalu saya mulai mendapatkan struktur database yang bisa berjalan sesuai dengan sebagian besar keinginan saya. Lama sekali? Iya.. Sebabnya, waktu luang saya semakin menyempit seiring dengan keaktifan saya di organisasi. Di samping itu juga saya tertarik untuk mengenal editing foto, editing audio dan video, sedikit desain grafis, dan yang terakhir, pembuatan website. Proyek utama jadi agak sering terabaikan, karena lama-lama merasa jenuh dan sedikit putus asa. Baik, kembali ke laptop, e.. urusan <em>database</em>. Struktur yang sudah mulai bisa berjalan saya uji coba untuk mengadministrasi <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/sekarang-di-optik-nisna.html">Optik Nisna</a>. Meskipun belum memenuhi semua harapan, database tersebut sudah mampu menghasilkan printout nota pesanan langsung dari sistem, jadi saya tidak menulis nota pesanan secara manual (dengan tulis tangan di blangko nota) lagi. Untuk sementara, pengembangannya terhenti di situ. Saat itu, waktu luang saya benar-benar habis untuk beberapa urusan di luar pekerjaan utama. Bahkan sudah terbersit di hati saya untuk berpatah arang dan mencari-cari penawaran <em>software</em> khusus untuk optik. Ternyata saya juga putus asa mencarinya. Padahal saat itu sudah demikian banyak pengembang/pembuat aplikasi yang menawarkan bermacam-macam aplikasi untuk pengelolaan usaha, baik mini market, restoran, bengkel, apotik, bahkan untuk rumah sakit. Salah seorang teman yang mengaku sudah pernah memesan aplikasi khusus untuk mengelola optik miliknya, juga mengaku kalau aplikasi tersebut tidak sesuai dengan harapannya.<br />
<br />
Setelah saya menarik diri dari beberapa urusan di luar pekerjaan utama, barulah saya mendapatkan waktu luang saya kembali. Di sela-sela waktu saya dalam mengelola Optik Nisna yang masih balita, selain saya pergunakan untuk menulis artikel dan mengembangkan website www.optiknisna.info yang saya bangun bersamaan dengan pendirian Optik Nisna, juga untuk kembali menekuni proyek impian yang sempat terpendam. Klimaksnya adalah 2 bulan belakangan ini. Selain ke pekerjaan utama, perhatian saya sangat terfokus untuk segera menyelesaikan proyek impian. Beberapa malam sempat ngotot melek hingga hampir subuh untuk mencoba berkenalan dengan kode-kode VBA. Tidak sempat menulis artikel, bahkan kadang untuk mengurus diri sendiri. Hasilnya, selain sebagian besar impian saya terwujud, kondisi fisik saya juga drop sampai harus <em>bedrest</em> 1 hari dan tidak enak makan hampir 1 minggu. Tekanan darah saya juga turun hingga 100/70, hal yang setahu saya belum pernah saya alami.<br />
<br />
Sebagian besar impian? Ya.. mungkin malah sebagian sangat besar. SISTEM ADMINISTRASI OPTIKAL (saya menamakannya demikian, secara singkat: SAO) yang berhasil saya susun adalah sebagian sangat besar dari impian saya tentang pengelolaan optik. Di SAO tersebut saya bisa menyimpan hasil pemeriksaan mata dasar secara cukup lengkap (bukan sekedar ukuran lensa hasil pemeriksaan refraksi) sejak dari anamnesa hingga koreksi refraksi final. Bisa mengadministrasi pelayanan (baca: penjualan) kacamata, lensa kontak, dan perlengkapannya secara detail dan memenuhi &#8220;keunikan&#8221; yang dibutuhkan oleh beberapa orang teman. Juga bisa mengadministrasi pelayanan jasa seperti yang biasa dilakukan oleh kebanyakan optik. Lebih dari itu, SAO yang saya susun tersebut juga memiliki kemampuan multi user atau banyak pengguna. Setiap pengguna harus terdaftar dalam list karyawan, untuk dapat masuk dan menggunakan SAO harus login dengan memasukkan username dan password. Tidak semua pengguna memiliki hak akses informasi yang sama. Hak akses tertinggi adalah admin, bisa mengakses seluruh informasi dan pengaturan. Kedua hak akses yang lain juga memiliki hak jangkau informasi yang tidak sama. Hak akses terendah disiapkan untuk diberikan kepada staf penjualan (pramuniaga).<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/hal_login.jpg" width="480" align="middle" alt="halaman login" /><br />
Dengan kemampuan multi user tersebut, semua karyawan penjualan dapat diberi hak akses sehingga pemilik dapat memonitor kinerja semua karyawan bagian penjualan. Memonitor kinerja? Iya. Elemen <em>point of sales</em> atau pencatatan penjualan dalam SAO ini dilengkapi dengan fitur untuk memasukkan data karyawan/personil yang menjadi fasilitator penjualan. Jadi, setiap transaksi yang terjadi/dicatat akan memiliki tanda: siapa karyawan yang melayaninya. Data-data itu akan dikumpulkan dan disortir oleh sistem SAO untuk ditampilkan dalam fasilitas pengecekan prestasi karyawan. Jumlah total nilai transaksi yang dilayani oleh karyawan yang bersangkutan akan ditampilkan di fitur tersebut. Cukup lumayan kan?<br />
<br />
Selain itu, SAO ini juga dapat menghasilkan laporan transaksi/penjualan yang sangat detail, laporan kas masuk dan keluar yang juga sangat detail. Pokoknya, cukup lumayan untuk dapat membuat saya sangat senang dan terhibur atas jerih payah saya berminggu-minggu. Tulisan ini akan menjadi terlalu panjang kalau saya ingin membahas fasilitas SAO tersebut satu persatu. Jika ingin mendapat gambaran yang lebih detail mengenai sejauh mana kemampuannya, silahkan <em>download</em>/unduh Petunjuk Penggunaan-nya yang sudah <a class="post-link" href="http://www.ziddu.com/download/7979593/PanduanPenggunaan.pdf.html">saya siapkan di sini</a>.<br />
<br />
Akan dikomersialkan kah SAO tersebut? Sangat besar kemungkinannya &#8220;YA&#8221;. Saya kasihan pada keluarga saya yang telah ikut menanggung kesusahan karena sering saya tinggal lembur di toko, kerepotan pada saat saya jatuh sakit dan tidak dapat mengurusi toko, dan kerepotan-kerepotan lain yang ditimbulkan oleh ulah saya karena impian saya tersebut. Namun demikian, saya juga tidak ingin senang sendiri. Saya sudah siapkan versi &#8220;suka rela&#8221;nya. Artinya, boleh dipakai secara GRATIS. Tentu, fasilitasnya sedikit lebih terbatas dari pada yang akan dikomersialkan. Untuk yang versi &#8220;suka rela&#8221; tersebut, <em>link download</em>nya sudah saya sediakan di facebook saya.<br />
Untuk yang versi dikomersialkan, harganya tidak akan lebih mahal dari sepasang lensa progresif kelas &#8220;agak bagusan dikit&#8221;. Hubungi saya secara pribadi saja untuk yang ini.<br />
<br />
Sekarang, dengan sangat mudah saya akan mampu menemukan data hasil pemeriksaan refraksi dari pasien lama saya, tanpa pakai pusing lagi. Kecuali komputer saya tidak dapat hidup tentu saja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.optiknisna.info/software-administrasi-optik-untuk-manajemen-data-pasien-yang-lebih-baik.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bingkai Kacamata Yang Sip Untuk Lensa Progresif</title>
		<link>http://www.optiknisna.info/bingkai-kacamata-yang-sip-untuk-lensa-progresif.html</link>
		<comments>http://www.optiknisna.info/bingkai-kacamata-yang-sip-untuk-lensa-progresif.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 17:36:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paknenisna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Kacamata]]></category>

		<category><![CDATA[frame kacamata]]></category>

		<category><![CDATA[lensa kacamata]]></category>

		<category><![CDATA[lensa progresif]]></category>

		<category><![CDATA[presbyopia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://optiknisna.info/bingkai-kacamata-yang-sip-untuk-lensa-progresif.html</guid>
		<description><![CDATA[Maraknya lensa-lensa progresif (Progressive Addition Lens) yang berharga sangat murah (dibanding beberapa tahun lalu) saat ini membuat lensa jenis ini semakin banyak dipilih oleh orang-orang yang sudah mengalami presbyopia, terutama presbyopia pemula yang umurnya kurang dari 50 tahun. Para penderita presbyopia pemula ini kebanyakan masih sangat peduli dengan penampilan sehingga cenderung tidak suka dengan kacamata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Maraknya lensa-lensa <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/pal-lensa-bergaya-muda-untuk-yang-mantan-muda.html">progresif</a> (<em>Progressive Addition Lens</em>) yang berharga sangat murah (dibanding beberapa tahun lalu) saat ini membuat lensa jenis ini semakin banyak dipilih oleh orang-orang yang sudah mengalami <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/presbyopia.html"><em>presbyopia</em></a>, terutama presbyopia pemula yang umurnya kurang dari 50 tahun. Para penderita presbyopia pemula ini kebanyakan masih sangat peduli dengan<span id="more-63"></span> penampilan sehingga cenderung tidak suka dengan kacamata bifokal yang menunjukkan bahwa pemakainya sudah tua (karena penderita presbyopia biasanya sudah berumur lebih dari 40 tahun).<br />
<br />
Berbeda dengan lensa-lensa jenis lain, pelayanan lensa progresif membutuhkan beberapa pengetahuan dan kemampuan khusus yang umumnya hanya dimiliki oleh optisi (tenaga ahli di bidang penanganan kacamata) yang telah mendapatkan pendidikan <em>ophtalmic optic</em>. Sejak dari pemilihan bingkai hingga <em>fitting</em>/pengepasan akhir, pelaksanaannya harus mempertimbangkan aspek-aspek teknis lensa progresif yang lebih kompleks dari pada <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/jenis-jenis-lensa-kacamata-1.html">lensa monofokal maupun lensa bifokal</a>. Sayangnya, hingga saat ini di Indonesia masih sangat banyak pramuniaga optik yang bukan merupakan seorang optisi sebagaimana yang dimaksud di awal paragraf ini. Karena itu seringkali mereka kurang dapat membantu dalam tahap pemilihan bingkai yang benar agar lensa progresif dapat berfungsi dengan optimal. Mereka masih terpaku pada acuan bentuk bingkai yang cocok dengan bentuk wajah atau mungkin bentuk bingkai yang sedang ngetren.<br />
<br />
Masih kurangnya jumlah optisi yang berpendidikan khusus (di Indonesia, lembaga pendidikan formalnya saat ini belum ada 20) mungkin merupakan penyebab utama keadaan tersebut. Karena itulah, akan lebih bijaksana jika para peminat atau calon pemakai lensa progresif juga mengetahui bentuk-bentuk bingkai kacamata yang cocok untuk jenis lensa yang diinginkannya.<br />
</p>
<ol>
<li><strong>Ukuran bingkai.</strong><br />
Ukuran bingkai yang akan berpengaruh terhadap unjuk kerja lensa progresif adalah ukuran rim pada arah vertikal, atau oleh para optisi disebut dengan <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/memahami-ukuran-bingkai-kacamata.html/#bsize"><em>B-size</em></a>. Agar lensa progresif memberikan unjuk kerja yang optimal, ukuran ini sebaiknya tidak kurang dari 33mm. Bila menginginkan lebih kecil/sipit dari 33mm, maka harus memilih jenis lensa progresif yang berkoridor pendek (biasanya berharga lebih mahal). Tapi juga sebaiknya tidak kurang dari 26mm. Yang sering kurang diperhatikan adalah di titik manakah pengukuran itu dilakukan? Tempat pengukuran yang benar adalah area di mana zona dekat dari lensa progresif akan ditempatkan. Lihat ilustrasi berikut:<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/bsize_prog.jpg" align="middle" alt="mengukur bsize untuk lensa progresif" /></li>
<li><strong>Bentuk bingkai.</strong><br />
Bingkai yang optimal untuk lensa progresif adalah yang memiliki bagian bawah rim yang cenderung rata atau lurus dalam arah horisontal. Bagian bawah rim yang miring menanjak ke arah pangkal hidung sehingga banyak memotong zona dekat lensa progresif akan membuat area penglihatan dekat menjadi sempit.<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/frimpaloke.jpg" align="middle" alt="bingkai untuk pal yang oke" /></li>
<li><strong>Bantalan hidung.</strong><br />
Pada saat pengepasan, bagian bingkai yang banyak disetel adalah tangkai dan bantalan hidung, jadi pilihlah bingkai yang memiliki bantalan hidung (<em>nosepad</em>) yang mudah disetel. Meski begitu akan sangat bagus jika bingkai yang dipilih memiliki jarak antar <em>nosepad</em> yang tidak berbeda jauh dengan ukuran batang hidung di mana bantalan tersebut akan menempel. Ini untuk menghindari pengubahan bentuk dudukan <em>nosepad</em> yang terlalu ekstrim. Sebaiknya hindari bingkai yang ber<em>nosepad</em> permanen (biasanya pada bingkai plastik/seluloit/zyl) sehingga tidak bisa disetel-setel. Kecuali bingkai tersebut bisa dipakai dengan pas pada posisi yang ideal (sesuai dengan persyaratan teknis pemasangan lensa progresif) tanpa perlu penyetelan <em>nosepad</em> lagi.</li>
<li><strong>Bentuk tangkai.</strong><br />
Sebaiknya tidak memilih bingkai kacamata yang memiliki tangkai berbentuk <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/tangkai-kacamata-bentuk-dan-pemakaiannya-pun-berbeda-beda.html/#library">seperti ini</a> karena kurang dapat memberi kedudukan kacamata yang stabil. Ketidakstabilan posisi kacamata akan sangat mempengaruhi unjuk kerja lensa progresif, terutama ketika dipakai untuk melihat jarak menengah dan dekat. Jika tetap menginginkan tangkai yang seperti itu karena sedang ngetren, pilihlah yang ujung belakangnya memiliki lapisan karet yang dapat membangkitkan friksi untuk menahan agar kacamata tidak mudah merosot.</li>
<li><strong>Kemiringan rim pada saat dipakai.</strong><br />
Pemasangan lensa progresif pada umumnya sangat menyarankan posisi lensa yang sedikit miring ke bawah (pantokospik). Bingkai kacamata yang tidak terlalu tebal biasanya bisa disetel untuk dapat memberikan posisi demikian. Namun, ada beberapa bingkai kacamata yang sangat kaku karena konstruksi maupun ketebalannya, sehingga tidak dapat disetel-setel lagi. Jika bingkai yang disukai kebetulan bersifat seperti itu, pastikan bingkai tersebut pada saat dipakai dapat memberikan posisi lensa sebagaimana yang dipersyaratkan. Jika tidak, sebaiknya pilih bingkai yang lain.<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/pantokospik.jpg" align="middle" alt="pantokospik" /></li>
</ol>
<p>
Sepertinya, filosofi &#8220;untuk mendapatkan hasil yang baik, mulailah dengan awalan yang baik&#8221; berlaku untuk kacamata progresif ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.optiknisna.info/bingkai-kacamata-yang-sip-untuk-lensa-progresif.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Diameter Softlens Yang Berbeda-beda Apa Pengaruhnya?</title>
		<link>http://www.optiknisna.info/diameter-softlens-yang-berbeda-beda-apa-pengaruhnya.html</link>
		<comments>http://www.optiknisna.info/diameter-softlens-yang-berbeda-beda-apa-pengaruhnya.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 13:23:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paknenisna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Lensa Kontak]]></category>

		<category><![CDATA[softlens]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://optiknisna.info/diameter-softlens-yang-berbeda-beda-apa-pengaruhnya.html</guid>
		<description><![CDATA[Sudah beberapa kali ada pengunjung optik saya yang menanyakan softlens yang berdiameter lebih besar dari yang sudah mereka pakai. Mereka beranggapan, dengan soflen yang diameternya lebih besar akan mendapatkan tampilan iris mata yang lebih besar dari sebelumnya. Benarkah begitu? Ooo&#8230; tiidaaakk.. (jadi inget iklan salah satu merek bumbu masak pada jaman dulu). Coba perhatikan ilustrasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah beberapa kali ada pengunjung optik saya yang menanyakan <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/softlens-salah-satu-jenis-lensa-kontak.html"><em>softlens</em></a> yang berdiameter lebih besar dari yang sudah mereka pakai. Mereka beranggapan, dengan soflen yang diameternya lebih besar akan mendapatkan tampilan iris mata yang lebih besar dari sebelumnya. Benarkah begitu? Ooo&#8230; tiidaaakk.. (jadi inget iklan salah satu merek bumbu masak pada jaman dulu).<span id="more-61"></span> Coba perhatikan ilustrasi di bawah ini:<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/irisdisoflen.jpg" align="middle" alt="gambar iris pada softlens" /><br />
Di ilustrasi soflen yang sebelah kiri mempunyai gambar iris yang berdiameter lebih besar dari pada soflen yang kanan, meskipun soflen yang sebelah kiri tersebut diameternya lebih kecil dari pada yang kanan. Jadi jelas kan bahwa yang membuat lingkaran iris di mata bisa nampak lebih besar dari aslinya adalah diameter gambar iris pada soflen, bukan diameter soflennya. Lalu, apa sebenarnya pengaruh dari diameter soflen yang berbeda-beda itu? Pembuatan soflen dengan diameter yang berbeda-beda, sejatinya ditujukan untuk memberi ruang pilih atas kondisi pemasangan soflen yang bisa berbeda-beda pada tiap-tiap orang. Maksudnya begini, soflen yang terpasang dalam kondisi ideal (tidak longgar atau ketat) di mata seseorang, bisa jadi akan terpasang dalam kondisi longgar di mata orang lain, atau malah bisa juga terpasang dalam kondisi ketat di mata orang yang lainnya lagi. Kondisi <em>fitting</em>/pemasangan soflen yang berbeda-beda itu karena dipengaruhi oleh ketidaksamaan kontur kelengkungan kornea, bolamata, dan juga produksi airmata pada tiap-tiap orang.<br />
<br />
Untuk mendapatkan <em>softlens</em> yang bisa fit secara ideal pada mata, sebenarnya ada 3 parameter yang akan memberi ruang pilih kepada calon pemakai <em>softlens</em>, yaitu <em>Base Curve</em>, kadar air, dan diameter. Nilai ketiga parameter itu biasanya bisa dilihat di kotak kemasan soflen.<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/kdairsofln.jpg" align="middle" alt="petunjuk parameter softlens" /><br />
<em>Base Curve</em> merupakan parameter yang menunjukkan kelengkungan dasar dari soflen, umumnya dalam satuan milimeter. Semakin kecil nilai BCnya, <em>fitting</em> soflen akan semakin ketat. Namun sayangnya, pilihan <em>Base Curve</em> soflen yang beredar (terutama di Indonesia) saat ini sudah sangat terbatas atau mungkin bisa dibilang tidak ada. Kebanyakan hanya menyediakan BC 8,6mm saja. Kadar air pada soflen ditunjukkan dalam prosentase. Pengaruh kadar air dalam <em>fitting</em> soflen sudah kita bahas <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/soflen-berkadar-air-tinggi-lebih-bagus-mutunya-anggapan-keliru.html">di artikel yang ini</a>. Diameter soflen yang pada umumnya dibuat lebih besar dari pada diameter kornea juga ditunjukkan dalam satuan milimeter. Berbeda dengan <em>Base Curve</em>, diameter soflen yang lebih kecil akan membuat kondisi <em>fitting</em> yang lebih longgar (tentunya jika parameter yang lainnya sama). Kenapa bisa terbalik begitu? Ilustrasi berikut ini akan membantu menjelaskan.<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/diasoflen.jpg" align="middle" alt="pengaruh diameter soflen" /><br />
Jika dilihat dengan seksama, bentuk kornea mata sebenarnya lebih menonjol atau menggunung dibanding area sekitarnya. Oleh karena bentuk kornea yang seperti inilah maka soflen bisa terpasang dan tidak mudah lepas/bergeser. Meski begitu, soflen disebut terpasang dalam kondisi ideal jika masih mampu sedikit bergeser (terjadi pada saat mata berkedip) untuk membuat lapisan airmata yang berada di antara kornea dan soflen sedikit &#8220;terpompa&#8221; keluar dan diganti oleh lapisan airmata baru. Pergantian lapisan airmata ini sangat diperlukan untuk membantu suplai oksigen ke kornea. Di samping itu juga berguna untuk proses pembersihan kornea dari debris/kotoran yang terjebak di antara kornea dan soflen. Bentuk kornea yang lebih menonjol ini juga membuat keliling lingkaran soflen yang terlalu besar diamternya menjadi terletak lebih dekat/<em>mepet</em> ke sklera (area di sekitar kornea). Soflen pun menjadi terpasang dalam keadaan lebih ketat/<em>seret</em> dan bisa menghambat pertukaran lapisan airmata.<br />
<br />
Jadi, memilih soflen secara benar mestinya bukan hanya didasari oleh sekedar kesukaan terhadap pola warnanya saja atau juga karena harganya yang lebih murah. Salah pilih bisa berakibat sangat merugikan terhadap kesehatan bolamata, khususnya kornea.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.optiknisna.info/diameter-softlens-yang-berbeda-beda-apa-pengaruhnya.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pengendalian Myopia, Berharap Minus Tak Bertambah Terus</title>
		<link>http://www.optiknisna.info/pengendalian-myopia-berharap-minus-tak-bertambah-terus.html</link>
		<comments>http://www.optiknisna.info/pengendalian-myopia-berharap-minus-tak-bertambah-terus.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 15:09:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paknenisna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Kelainan Penglihatan]]></category>

		<category><![CDATA[kacamata minus]]></category>

		<category><![CDATA[mata minus]]></category>

		<category><![CDATA[myopia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://optiknisna.info/pengendalian-myopia-berharap-minus-tak-bertambah-terus.html</guid>
		<description><![CDATA[Sepertinya tidak ada penderita myopia atau pemakai kacamata minus yang tidak ingin minusnya tidak bertambah terus, syukur-syukur bisa turun, atau bahkan sembuh total tidak perlu kacamata lagi. Bagi penderita myopia kategori sedang maupun berat (> -3,00), berharap agar minusnya bisa menurun drastis atau sembuh adalah hal yang tidak mudah terpenuhi. Hanya Lasik dan metode operatif/surgery [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepertinya tidak ada penderita <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/myopia.html">myopia</a> atau pemakai kacamata minus yang tidak ingin minusnya tidak bertambah terus, syukur-syukur bisa turun, atau bahkan sembuh total tidak perlu kacamata lagi. Bagi penderita myopia kategori sedang maupun berat (> -3,00), berharap agar minusnya bisa menurun drastis atau sembuh adalah hal yang tidak mudah terpenuhi.<span id="more-62"></span> Hanya Lasik dan metode operatif/<em>surgery</em> lain (Lasek, Keratotomi) yang sudah secara nyata dapat membuktikan keberhasilannya. Tapi itu meminta kompensasi biaya yang masih dirasa sangat mahal bagi sebagian besar kalangan masyarakat. Berharap dari kacamata? Kacamata (berlensa minus) tidak ditujukan untuk menyembuhkan minusnya, tapi untuk mengkoreksi atau memperbaiki ketajaman penglihatan yang terganggu akibat myopia tersebut. Padahal kasus myopia tinggi tidak sekedar berarti kaburnya penglihatan, tapi juga sering diikuti dengan masalah kesehatan mata yang cukup serius. Bahaya robekan dan pengelupasan retina yang mengancam penderita myopia tinggi adalah yang paling serius, bisa mengakibatkan buta total.<br />
<br />
Mengingat begitu seriusnya bahaya yang mengikuti kasus myopia tinggi, upaya pengendalian myopia (<em>myopia control</em>) yang bertujuan untuk menekan/menghambat laju pertambahan myopia seminimal mungkin, sudah menjadi pemikiran banyak ahli kesehatan mata sejak dulu. Berbagai studi dan penelitian sudah dilakukan, meskipun ada beberapa metode yang tidak terdokumentasi secara rinci mengenai efektifitasnya. Namun, setidaknya ada beberapa  metode yang bisa menjadi bahan pertimbangan bagi para orang tua yang mempunyai anak yang menderita myopia. Mengapa anak-anak yang disasar? Karena pada masa-masa pertumbuhan itulah masih ada harapan untuk ikut mempengaruhi perkembangan fisik mereka, terutama dalam hal ini adalah organ penglihatannya. Myopia yang diderita sejak kecil akan cenderung bertambah seiring dengan pertumbuhan fisik. Jika pertambahannya tergolong cepat, pada saat dewasanya nanti akan bisa berakhir dengan myopia yang sangat tinggi. Meskipun begitu, penderita myopia yang sudah dewasa juga ada baiknya mempertimbangkan pengendalian myopia ini, terutama yang dalam pekerjaanya menuntut penglihatan dekat yang terus menerus.<br />
<br />
Ada berapa cara yang disarankan oleh para ahli untuk pelaksanaan pengendalian myopia ini, namun, belum ada kesepakatan tentang satu metode tertentu yang dapat memberi tingkat keberhasilan yang paling memuaskan. Berbagai studi dan penelitian tentang hal tersebut memang masih terus dilakukan hingga saat ini.<br />
</p>
<ul>
<li><strong>Ortokeratologi.</strong><br />
Di beberapa literatur, ortokeratologi sebenarnya mempunyai tujuan untuk &#8220;menyembuhkan&#8221; myopia yang masih dalam tingkat sangat ringan. Ini bisa ditilik dari metodenya yang merupakan usaha untuk membentuk kelengkungan kornea supaya lebih rata/flat dengan menggunakan lensa kontak rigid/kaku (bukan <em>softlens</em>) yang didesain secara khusus. Lensa kontak yang umumnya dibuat dari bahan yang bersifat <em>high gas permeable</em> (mudah dilalui udara, agar kornea mendapat oksigen yang cukup) ini memiliki kelengkungan dasar yang lebih flat/rata (1.00 - 2.00 D) dari pada kelengkungan kornea pasien. Namun, ada pula beberapa ahli yang menggunakan ortokeratologi ini sebagai salah satu metode pengendalian myopia. Untuk itu, pasien disuruh memakai lensa kontak tersebut pada waktu-waktu tertentu (umumnya malam hari). Di salah satu studi yang dilakukan oleh seorang ahli dari Houston yang <a class="post-link" href="http://www.ortho-k.org.hk/member/myopia-report1.html">didokumentasikan di sini</a>, setiap peserta program yang umurnya bervariasi dari 5 hingga >21 tahun diminta untuk memakai lensa kontak tersebut tiap malam selama 5 tahun. Selama kurun waktu itu, secara periodik pasien diperiksa untuk mengetahui perkembangannya. Hasilnya terlihat cukup memuaskan. 97% dari 519 peserta dinyatakan tidak mengalami pertambahan derajat myopia atau pertambahannya sangat kecil.</li>
<p></p>
<li><strong>Menggunakan lensa kontak RGP (<em>Rigid Gas Permeable</em>).</strong><br />
Meskipun sama-sama menggunakan lensa kontak jenis rigid/kaku, metode yang ini hanya menggunakan lensa kontak RGP yang umum digunakan untuk mengkoreksi kelainan refraksi sebagaimana soflen dan kacamata. Jadi fungsi lensa kontak RGP di sini memang sebagai pengganti kacamata atau soflen. Menurut beberapa studi yang sudah dilakukan oleh para ahli kesehatan penglihatan, pemakaian lensa kontak jenis ini memang dapat mengurangi laju pertambahan myopia, meskipun hasilnya tidak sebagus metode ortokeratologi. Lensa kontak jenis ini juga mampu memberi kualitas penglihatan yang lebih baik dari pada soflen maupun kacamata.</li>
<p></p>
<li><strong>Menggunakan lensa bifokal.</strong><br />
Beberapa ahli sepakat bahwa akomodasi bisa merupakan salah satu faktor penimbul myopia. Akomodasi merupakan aktifitas yang diprakarsai oleh otak sebagai respon dari kondisi <em>out of focus</em> yang terjadi dalam bolamata. Kondisi <em>out of focuss</em> ini terjadi bila obyek yang dilihat oleh mata berada dalam jarak dekat.<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/outoffocuss.jpg" align="middle" alt="out of focuss" /><br />
Otak akan meresponnya dengan mengirimkan perintah ke otot siliaris yang memegang lensa mata untuk berkontraksi sehingga lensa tersebut menjadi lebih gembung dan daya biasnya meningkat. Dengan meningkatnya daya bias tersebut akan membuat titik fokus yang sebelumnya terletak di belakang retina menjadi bergeser maju dan berada tepat di retina. Akomodasi yang terus menerus akan menyebabkan mata cepat lelah, bahkan bisa menimbulkan kekejangan (<em>spasm</em>) akomodasi.<br />
Pemberian kacamata <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/jenis-jenis-lensa-kacamata-1.html">bifokal</a> sehubungan dengan pengendalian myopia ini dimaksudkan untuk mengurangi beban akomodasi tersebut. Pengurangan beban akomodasi inilah yang diyakini dapat mengurangi laju pertambahan myopia. Namun, di kalangan praktisi optik Indonesia, pemberian kacamata bifokal untuk anak-anak atau remaja mungkin akan dianggap aneh, karena banyak dari mereka yang belum memahami tentang metode pengendalian myopia ini. Di samping itu, kebanyakan orang tua anak-anak tersebut juga cenderung tidak ingin tampang anaknya nampak seperti orang tua. Kedua faktor tersebut menyebabkan metode pengendalian myopia ini agak kurang populer.</li>
<p></p>
<li><strong>Menggunakan lensa multifokal.</strong><br />
Prinsipnya sama dengan penggunaan lensa bifokal, hanya saja pada lensa jenis <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/jenis-jenis-lensa-kacamata-1.html">multifokal/multifokus</a> ini tidak menampakkan garis yang memisahkan area untuk melihat jauh dan area untuk melihat dekat. Bahkan, ada produsen lensa yang mendesain lensa multifokus yang dikhususkan untuk digunakan dalam pengendalian myopia ini. Keberadaan lensa multifokus ini akan dapat menjadi jawaban bagi mereka yang tidak ingin anaknya kelihatan tua dengan lensa bifokal.</li>
<p></p>
<li><strong>Metode undercorrection.</strong><br />
Ini dilakukan dengan memberikan ukuran lensa koreksi yang berdioptri lebih lemah dari seharusnya. Dengan kacamata yang <em>under correction ini</em>, akomodasi pada saat melihat dekat tidak akan sekuat jika memakai kacamata minus dengan ukuran penuh. Namun ini juga harus melalui pertimbangan yang seksama supaya tidak terlalu merugikan penglihatan jauhnya, terutama untuk anak-anak sekolah. Ukuran kacamata minus yang diberikan harus diatur sedemikian rupa agar hanya cukup untuk dapat melihat tulisan di papan tulis.</li>
<p></p>
<li><strong>Membatasi pemakaian kacamata.</strong><br />
Seringnya, penjual kacamata yang kurang dalam pengetahuannya tentang mekanisme penglihatan akan menyarankan agar penderita myopia memakai kacamata minusnya terus menerus. Saran tersebut sebenarnya kurang benar, terutama untuk yang minusnya ringan (-3,00 atau kurang). Myopia disebut juga rabun jauh karena penderitanya akan mengalami kabur penglihatan hanya pada saat melihat jauh. Ini karena titik fokus dalam bola mata tidak tepat pada retina, tapi berada di depan retina. Pada saat melihat dekat (misalnya membaca buku) di mana pada saat itu titik fokus bergeser kebelakang dan lebih dekat ke retina, kacamata minus tidak begitu dibutuhkan lagi. Jika kacamata minus tetap dipakai, titik fokus malah akan terlalu jauh hingga dibelakang retina dan membuat mata harus berakomodasi. Aktifitas akomodasi inilah yang harus banyak dikurangi untuk mengurangi laju pertambahan myopia. Intinya, pakai kacamata minus hanya pada saat benar-benar dibutuhkan.
</li>
</ul>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.optiknisna.info/pengendalian-myopia-berharap-minus-tak-bertambah-terus.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Supersin, Yang Betul Anti Silau Atau Anti Pantul?</title>
		<link>http://www.optiknisna.info/tentang-supersin-yang-betul-anti-silau-atau-anti-pantul.html</link>
		<comments>http://www.optiknisna.info/tentang-supersin-yang-betul-anti-silau-atau-anti-pantul.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 04:43:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paknenisna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Kacamata]]></category>

		<category><![CDATA[anti pantul]]></category>

		<category><![CDATA[anti silau]]></category>

		<category><![CDATA[lensa kacamata]]></category>

		<category><![CDATA[supersin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://optiknisna.info/tentang-supersin-yang-betul-anti-silau-atau-anti-pantul.html</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian besar orang, terutama pemakai maupun praktisi kacamata pasti sudah familiar dengan istilah supersin ini. Ya, istilah itu sering sekali dikaitkan dengan permintaan lensa kacamata. Demikian juga halnya dengan istilah anti silau. Meski begitu, banyak yang tidak sadar bahwa kedua istilah itu sudah membangkitkan salah kaprah yang cukup kronis di kalangan konsumen lensa kacamata maupun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagian besar orang, terutama pemakai maupun praktisi kacamata pasti sudah familiar dengan istilah supersin ini. Ya, istilah itu sering sekali dikaitkan dengan permintaan lensa kacamata. Demikian juga halnya dengan istilah anti silau. Meski begitu, banyak yang tidak sadar bahwa kedua istilah itu sudah membangkitkan salah kaprah yang cukup kronis di kalangan konsumen lensa kacamata maupun praktisi kacamata (amatir).<span id="more-60"></span> Kasusnya mirip dengan kebanyakan orang awam (jaman dahulu) yang menyebut honda terhadap semua sepeda motor (kecuali skuter). Salah kaprah tentang honda dan sepeda motor sekarang sudah jarang sekali terdengar di kalangan generasi masa kini. Namun tidak demikian halnya dengan istilah supersin dan anti silau. Jarang sekali konsumen yang mengerti dengan sebenarnya tentang kedua istilah tersebut. Bahkan praktisi kacamata pun masih banyak juga yang tidak memahaminya.<br />
<br />
Seperti yang sudah umum terjadi, suatu produk yang menjadi pionir atau pun yang sangat sukses di pasaran, akan membangkitkan <em>brand image</em> yang tertanam kuat dalam hati masyarakat konsumen. Supersin, sebenarnya adalah merupakan merek dagang (<em>trade merk</em>) milik produsen lensa kacamata Rodenstock. Nama supersin ini diberikan untuk suatu jenis lapisan khusus yang ditambahkan pada beberapa produk lensa mereka agar unjuk kerjanya semakin optimal. Lapisan yang sangat tipis tersebut dimaksudkan untuk mengurangi pantulan cahaya yang ditimbulkan dari &#8220;benturan&#8221; berkas cahaya yang masuk ke medium lensa. Itulah kenapa lapisan atau coating ini disebut lapisan anti pantul (<em>Anti Reflection</em>), sesuai dengan tujuan pengadaannya.<br />
<br />
Peristiwa memantulnya cahaya terjadi apabila berkas-berkas cahaya tersebut mengenai suatu media. Jika media tersebut mampu meneruskan berkas cahaya yang mengenainya, maka benda itu disebut benda tembus cahaya atau transparan/jernih. Semakin tinggi kejernihan suatu media, maka akan semakin besar jumlah berkas cahaya yang mampu diteruskannya. Namun, pada prakteknya akan amat sangat sulit menemukan suatu media yang mampu meneruskan cahaya sebesar 100% dari jumlah cahaya yang menimpanya. Ini karena ada sebagian kecil berkas cahaya yang dipantulkan kembali oleh sebab adanya perbedaan indeks bias antar media. Pada kasus lensa kacamata, perbedaan ada pada indeks bias udara di mana biasanya berkas sinar berasal, dan indeks bias bahan lensa yang bertugas meneruskan cahaya agar sampai ke bolamata. Seberapa banyak berkas cahaya yang dipantulkan kembali oleh lensa kacamata, sangat dipengaruhi oleh indeks bias bahan lensa dan juga sudut arah datang berkas cahaya tersebut terhadap permukaan lensa. Semakin tinggi indeks bias bahan lensa, akan semakin banyak jumlah berkas cahaya yang dipantulkannya. Pada lensa dengan indeks bias 1,5, akan dapat terjadi kerugian penerusan cahaya kira-kira sebesar 7,7% akibat fenomena pemantulan tersebut.<br />
<br />
Berkurangnya jumlah cahaya (akibat ada yang dipantulkan kembali) yang diteruskan oleh lensa, tentu merupakan hal yang tidak diinginkan karena dapat mengurangi ketajaman penglihatan dan kekontrasan. Di samping itu, bayangan pantulan yang terbentuk pada permukaan lensa dapat menimbulkan bayangan pantulan baru pada sisi lensa yang lain (ingat, lensa mempunyai dua sisi permukaan). Fenomena banyak pantulan inilah yang menimbulkan efek silau pada pemakai lensa, terutama oleh lampu-lampu pada waktu malam hari.<br />
<br />
Untuk meminimalisir jumlah cahaya yang terpantulkan kembali dari permukaan lensa, maka ditambahkan suatu lapisan transparan yang nilai indeks biasnya berada di antara indeks bias udara dengan indeks bias bahan lensa. Jadi lebih rendah dari pada indeks bias lensa, tapi lebih tinggi dari pada indeks bias udara. Penambahan lapisan ini pada permukaan lensa akan mengurangi jumlah cahaya yang terpantul sehingga mempertinggi jumlah cahaya yang diteruskan ke bola mata. Lapisan dengan teknologi terkini mampu memperbaiki tansmisi cahaya pada lensa hingga lebih dari 99%. Hal ini akan mempertinggi ketajaman penglihatan dan kekontrasan. Selain itu, pengurangan jumlah cahaya yang terpantul juga tentunya mengurangi intensitas pantulan bayangan yang terjadi di internal bahan lensa sehingga efek silau sebagaimana yang telah diuraikan di atas akan berkurang secara signifikan. Unjuk kerja yang inilah yang sering didengung-dengungkan dengan sebutan <strong>anti silau</strong> (terutama oleh para penjualnya) untuk menarik minat calon konsumen, karena sebutan anti silau terdengar lebih mudah dipahami (dan lebih dramatis tentunya) dari pada sebutan anti pantul. Sayangnya, banyak yang mengira kalau anti silau yang dimaksud adalah silau yang disebabkan oleh jumlah cahaya yang berlebihan dari sumber cahaya yang terlalu kuat (misalnya sorot lampu yang terlalu terang, pantulan sinar matahari yang terlalu kuat, dan lain-lain). Dan kesalahpahaman ini jarang sekali mendapat klarifikasi dari praktisi optik/kacamata. Yang demikian ini tentu saja bisa merugikan pihak konsumen yang tidak tahu, tapi bisa menguntungkan di pihak penjual/produsen. Atau malah bisa saja sang praktisi sendiri juga belum paham dengan yang sebenarnya.<br />
<br />
Selain Rodenstock dengan Supersin-nya, sebenarnya banyak juga produsen lensa kacamata yang telah melengkapi lensa-lensa yang diproduksinya dengan lapisan anti pantul yang mirip dengan supersin. Namun mungkin karena gaung nama Supersin begitu kuat bergema di hati masyarakat konsumen, maka setiap lensa yang dilengkapi lapisan anti pantul pun akhirnya mereka sebut dengan lensa supersin, tidak peduli itu buatan Rodenstock atau bukan. Lagi-lagi ini juga jarang diklarifikasi oleh praktisi optik/kacamata. Bisa jadi karena kerancuan itu juga dapat memberi efek positif terhadap kepentingan mereka. Atau, jangan-jangan mereka sendiri juga korban kerancuan.. Kalau benar begitu, ya.. memalukan..</p>
<p><code>Referensi: en.wikipedia.org/wiki/anti-reflective_coating.</code></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.optiknisna.info/tentang-supersin-yang-betul-anti-silau-atau-anti-pantul.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lensa Kacamata Saya Akan Seberapa Tebalnya?</title>
		<link>http://www.optiknisna.info/lensa-kacamata-saya-akan-seberapa-tebalnya.html</link>
		<comments>http://www.optiknisna.info/lensa-kacamata-saya-akan-seberapa-tebalnya.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Jul 2009 15:22:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paknenisna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Kacamata]]></category>

		<category><![CDATA[ketebalan lensa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://optiknisna.info/lensa-kacamata-saya-akan-seberapa-tebalnya.html</guid>
		<description><![CDATA[Ketebalan lensa merupakan faktor yang sangat diperhatikan oleh sebagian (sangat) besar pemakai kacamata, terutama yang harus menggunakan ukuran yang cukup tinggi (3 dioptri ke atas). Maka tak heran lah jika banyak pengembangan teknologi lensa yang bertujuan untuk mengejar tag &#8220;tipis&#8221; yang menjadi tuntutan para pemakai kacamata tersebut. Dari sisi bahan, pengembangan dilakukan untuk mendapatkan bahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketebalan lensa merupakan faktor yang sangat diperhatikan oleh sebagian (sangat) besar pemakai kacamata, terutama yang harus menggunakan ukuran yang cukup tinggi (3 dioptri ke atas). Maka tak heran lah jika banyak pengembangan teknologi lensa yang bertujuan untuk mengejar tag &#8220;tipis&#8221; yang menjadi tuntutan para pemakai kacamata tersebut. Dari sisi bahan, pengembangan dilakukan untuk mendapatkan bahan lensa yang <span id="more-59"></span>mempunyai indeks bias setinggi mungkin. Hubungan antara indeks bias bahan dan ketebalan lensa, dapat anda baca di <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/hubungan-indeks-bias-dengan-ketebalan-lensa-kacamata.html">artikel yang ini</a>. Sedangkan dari sisi desain, pengembangan dilakukan untuk mendapatkan kontur kelengkungan yang serata mungkin. Tentang bagaimana kelengkungan berhubungan dengan ketebalan lensa, silahkan baca <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/biang-kerok-ketebalan-lensa-kacamata.html">artikel yang ini</a>.</p>
<p>Sayangnya, hingga saat ini semua pengembangan teknologi lensa tersebut tetap belum bisa secara mudah membuat calon pemakai kacamata tahu pasti, tampak seberapa tebal lensa yang akan terpasang pada kacamatanya. Ini karena bentuk fisik lensa (yang berukuran tentunya) yang ketebalannya bervariasi dari titik pusat lensa hingga ke bagian pinggir/perifer-nya. Lensa berdioptri minus (-) akan memiliki ketebalan terkecil di bagian titik pusat lensa, dan berangsur-angsur menebal di bagian pinggirnya. Yang sebaliknya akan berlaku bagi lensa dengan dioptri plus (+).</p>
<p>Sebenarnya ada suatu cara untuk mendapatkan gambaran yang hampir mendekati kenyataan mengenai ketebalan lensa yang akan tampak pada kacamata, tapi itu tidak mudah. Butuh perhitungan yang cukup rumit karena ada banyak faktor yang akan mempengaruhi hasilnya. Ahli kacamata yang berkemampuan bagus dan sudah mendapatkan pendidikan khusus biasanya dapat melakukannya. Adapun faktor-faktor yang akan berpengaruh terhadap perhitungan ketebalan lensa tersebut adalah:</p>
<ul>
<li>Ukuran dioptri (<strong>D</strong>) lensa.</li>
<li>Ukuran base curve (<strong>BC</strong>) lensa.</li>
<li>Indeks bias (<strong>n</strong>) lensa.</li>
<li>Jarak pupil (<strong>PD</strong>) calon pemakai kacamata.</li>
<li>Ukuran rim (<strong>A</strong> size) bingkai kacamata.</li>
<li>Jarak antara kedua lensa kacamata (<strong>DBL</strong>, distances between lens).</li>
<li>Ukuran ketebalan tengah (<strong>CT</strong>, center thickness) lensa.</li>
</ul>
<p>Berhubung pemakai kacamata minus (-) tinggi merupakan orang yang lebih banyak dan sering mempersoalkan ketebalan lensa kacamatanya, maka pembahasan ini sengaja dipersempit dengan hanya akan menghitung ketebalan pada lensa berdioptri minus, tanpa dengan ukuran cylinder maupun prisma. Faktor-faktor yang diuraikan dalam daftar di atas juga lebih berhubungan dengan lensa tersebut.</p>
<p>Rumus dasar yang digunakan untuk perhitungan ini merupakan rumus yang dipakai untuk menghitung busur dari suatu lingkaran. Dalam hal ini, yang dicari adalah tinggi busur yang mana merupakan jarak antara puncak busur dengan bentang tali busur, sebagaimana digambarkan pada ilustrasi berikut:<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/sagita.jpg" align="middle" alt="rumus busur lingkaran" /><br />
Sebagai langkah awal, kita harus mendapatkan nilai CD tersebut lebih dahulu. Dari mana? Tentu dari lensa yang ingin kita ketahui ketebalannya. Kalau anda sudah membaca <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/biang-kerok-ketebalan-lensa-kacamata.html">artikel yang ini</a>, tentunya sudah faham bahwa lensa mempunyai 2 permukaan lengkung, r1 dan r2. Penampang dari lensa yang dipotong melintang akan dapat memperlihatkan bahwa ia nampak seperti terdiri dari 2 busur. Busur pertama (r1) merupakan <em>base curve</em> dari lensa tersebut. Pada umumnya, <em>base curve</em> dinyatakan dalam satuan dioptri. Sayang, <em>base curve</em> ini nilainya tidak pernah dicantumkan pada kemasan lensa, jadi harus diukur dengan alat khusus. Bisa dengan <em>spherometer</em>, bisa juga dengan <em>lens clock</em> atau jam lensa. Ahli optik pasti akan mengenal kedua alat tersebut. Ukuran <em>base curve</em> yang didapat masih harus dikonversi ke dalam ukuran jari-jari kelengkungan.</p>
<p>Sebagai contoh, kita akan mencoba memperkirakan tebal lensa berukuran -6,00 dengan indeks bias 1,6 yang dibuat dengan <em>base curve</em> +4,00 dan <em>center thickness</em> (ketebalan tengah) 1mm. Kita akan mulai dengan menghitung tinggi busur untuk bagian r2 atau <em>ocular curve</em>nya. Nilai dioptri untuk r2 didapat dengan perhitungan:<br />
D= BC+OC (D= ukuran dioptri lensa, BC= base curve, OC= ocular curve)<br />
-6,00 = 4,00 + OC<br />
-OC = 4,00 + 6,00<br />
OC = -10,00 dioptri.</p>
<p>Konversi nilai tersebut ke dalam ukuran jari2 kelengkungan r2:<br />
10,00 = ((1,6 - 1)/r2)<br />
r2 = 0,6/10<br />
r2 = <strong>0,06m atau 60mm</strong></p>
<p>Nilai untuk CD sudah didapat. Selanjutnya kita membutuhkan nilai EB yang akan kita cari dari data rencana layout pemotongan lensa. Yang dibutuhkan adalah jarak terbesar yang harus diukur dari rencana penempatan titik pusat lensa ke pinggir lensa. Lihat ilustrasi berikut ini:<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/jaraktitikoc.jpg" align="middle" alt="jarak titik pusat lensa ke pinggir lensa" /><br />
Jika misalnya kita mendapatkan nilai EB = 30mm atau 0,03m maka perhitungan untuk mendapatkan tinggi busur CE menjadi:<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/tinggibusur.jpg" align="middle" alt="hitung tinggi busur" /><br />
Tinggi busur r2 sudah didapat. Selanjutnya adalah menghitung tinggi busur r1. Jari-jari kelengkungan r1 kita dapat dengan perhitungan:<br />
4,00 = ((1,6 - 1)/r2)<br />
r2 = 0,6/4<br />
r2 = <strong>0,15m atau 150mm</strong></p>
<p>Perhitungan tinggi busur r1 menjadi:<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/tinggibusur1.jpg" align="middle" alt="hitung tinggi busur" /></p>
<p>Sekarang jika busur r2 dan r1 kita susun dengan memberi jarak 1 mm di antara masing-masing puncak busur, maka kita akan mendapat sebuah gambaran penampang lensa seperti ini:<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/2busur_b.jpg" align="middle" alt="susunan busur lensa" /><br />
Ketebalan lensa sebagaimana digambarkan dengan garis merah pada ilustrasi di atas, merupakan selisih tinggi busur r2 dengan tinggi busur r1, di tambah dengan jarak 1mm di antara masing-masing puncak busur (ini yang disebut <em>center thickness</em>), yaitu:</p>
<h3>(8,04 - 3,03) + 1 = 6,1 mm</h3>
<p>Cooling down:<br />
Ketika saya iseng - iseng mencoba mendiskusikan hitung - hitungan di atas dengan salah seorang teman, tanggapannya malah: &#8220;Lhaahh.. kalau aku yang ditanya oleh calon pembeli tentang ukuran ketebalan lensanya, aku tidak membutuhkan berbagai hitungan njelimet seperti itu. Cukup jawab dengan: Tergantung seberapa tebal gepokan ratusan ribu yang berani anda keluarkan.&#8221;<br />
Kurang ajar.. eh, tapi memang ada benarnya sih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.optiknisna.info/lensa-kacamata-saya-akan-seberapa-tebalnya.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dioptri Lensa Kontak Tidak Selalu Lebih Kecil Dari Kacamata</title>
		<link>http://www.optiknisna.info/dioptri-lensa-kontak-tidak-selalu-lebih-kecil-dari-kacamata.html</link>
		<comments>http://www.optiknisna.info/dioptri-lensa-kontak-tidak-selalu-lebih-kecil-dari-kacamata.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 15:01:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paknenisna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Lensa Kontak]]></category>

		<category><![CDATA[softlens]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://optiknisna.info/dioptri-lensa-kontak-tidak-selalu-lebih-kecil-dari-kacamata.html</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Mas, ada lensa kontak yang ukuran plus nggak?&#8221; suara merdu seorang wanita langsung menyusul bunyi &#8220;ting.. tong&#8221; dari bel yang bersuara setiap kali pintu optik saya terbuka atau tertutup. Sebenarnya saya tidak punya persediaan softlens berukuran plus, tapi penampilan wanita yang masih terlalu muda untuk mengalami presbyopia itu membuat mata dan hati saya (semoga istri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Mas, ada lensa kontak yang ukuran plus nggak?&#8221; suara merdu seorang wanita langsung menyusul bunyi &#8220;ting.. tong&#8221; dari bel yang bersuara setiap kali pintu <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/sekarang-di-optik-nisna.html">optik saya</a> terbuka atau tertutup. Sebenarnya saya tidak punya persediaan <em>softlens</em> berukuran plus, tapi penampilan wanita yang masih terlalu muda untuk mengalami <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/presbyopia.html">presbyopia</a> itu membuat mata dan hati saya<span id="more-58"></span> (semoga istri saya tidak membaca artikel ini <sub> <img src='http://www.optiknisna.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </sub> ) memprovokasi pemikiran sehingga tersusunlah jawaban yang terkombinasi dengan pertanyaan: &#8220;Jarang sekali yang punya stok <em>softlens</em> berukuran plus, Mbak. Memangnya kacamata <em>njenengan</em> (anda) berukuran plus ya? Butuh <em>softlens</em> yang plus berapa?&#8221; Ia juga ikut-ikutan menjawab sekaligus bertanya: &#8220;Iya, kacamata saya ukuran +2,50 yang kanan, kirinya +3,00. Jadi saya butuh lensa kontak +2,25 dan +2,75. Dari ukuran kacamata harus dikurangi 0,25 kan?&#8221; Saya tersenyum (dimanis-manisin). Ihuiiyyy.. dia sendiri yang membuka peluang perpanjangan waktu.</p>
<p>Hmm.. ternyata ia mencari lensa kontak untuk mengatasi <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/hypermetropia.html">hipermetropia</a> yang dialaminya. Bukan soal itu yang mau saya jadikan topik untuk berlama-lama dengannya, tapi soal ukuran lensa kontak yang katanya harus dikurangi 0,25 itu. Saya pun menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan juga: &#8220;Lha, kata siapa ukuran lensa kontak harus kurang 0,25 dari kacamata?&#8221; &#8220;Ya kata orang-orang di optik yang tadi saya datangi itu,&#8221; kepalanya sambil sedikit menoleh mengekspresikan arah di mana optik yang barusan didatanginya. Vwheee&#8230; lagi-lagi saya menemui salah kaprah yang terjadi di kalangan praktisi optikal amatir. Keinginan saya untuk berpanjang-panjang waktu dengannya pun kesampaian, sampai kecapaian malah (ih, jangan mikir yang enggak<sup>2</sup> ya).</p>
<p>&#8220;Mbak, perubahan ukuran dioptri lensa kacamata untuk diaplikasikan ke lensa kontak itu dilakukan berdasarkan perhitungan tertentu untuk mengkompensasi jarak lensa ke kornea yang menjadi 0. Lensa yang ada pada kacamata (juga trial frame yang dipakai untuk pemeriksaan refraksi mata) kan terpasang pada jarak tertentu terhadap kornea mata, sementara lensa kontak terpasang menempel pada kornea mata. Perubahan jarak itu harus dikompensasi dengan cara merubah ukuran dioptri. Mengapa harus begitu? Karena jika letak lensa digeser mendekat atau menjauh terhadap kornea, letak fokus yang dihasilkan dari pembiasan dalam bolamata juga akan mendekat atau menjauh terhadap retina.&#8221; Wanita itu <em>manggut-manggut</em> (mengangguk-angguk). Pesonanya membuat saya mencari alasan untuk lebih mendekat: &#8220;Coba Mbak perhatikan ilustrasi ini.&#8221; Saya pun corat-coret pada sehelai kertas. Versi layak tayangnya seperti ini:<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/perubahanjaraklensa.jpg" align="middle" alt="efek perubahan jarak lensa ke kornea" /><br />
<br />
&#8220;Perubahan letak titik fokus di retina yang disebabkan oleh perubahan letak lensa bisa diatasi dengan merubah ukuran dioptri lensa&#8221;. &#8220;Mmm.. berarti dengan cara mengurangi itu ya?&#8221; ia menyela. Saya tersenyum lagi, kali ini tidak dimanis-manisin. &#8220;Merubah itu bisa dengan mengurangi atau menambah Mbak, untuk lensa berdioptri minus memang dengan cara mengurangi tapi untuk yang berdioptri plus justru dengan cara menambah.&#8221; Roman mukanya berubah sedikit serius: &#8220;Lho, kok bisa gitu?&#8221; Kepenasarannya menyemangati saya. Setelah meneguk air putih (tentu permisi dulu lah, biar sopan) untuk melemaskan tenggorokan yang mulai mengering, saya pun melanjutkan:<br />
&#8220;Untuk diketahui, mengurangi ukuran dioptri lensa minus akan memperpendek jarak fokusnya, tapi mengurangi ukuran dioptri lensa plus justru akan memperpanjang jarak fokusnya.&#8221; Keseriusan di wajahnya belum mengendor, pertanda kepenasaran masih merundungnya. &#8220;Terus..terus..,&#8221; ia tak tahan juga.<br />
Kembali saya sodorkan corat-coret ilustrasi yang sebelumnya sudah saya perlihatkan. &#8220;Begini, pada saat lensa didekatkan sampai jarak 0 terhadap kornea, titik fokus pembiasan dalam bolamata kan jadi mundur ke belakang retina. Cara untuk membuatnya maju dan kembali tepat pada retina adalah dengan mengurangi panjang fokusnya. Jika lensa yang didekatkan ke kornea adalah lensa minus, berarti harus dilakukan dengan mengurangi ukuran dioptri minusnya. Tapi, jika lensa yang didekatkan ke kornea adalah lensa plus, mengurangi ukuran dioptri plusnya justru akan memperpanjang jarak fokus sehingga titik fokus pembiasan dalam bolamata menjadi lebih jauh lagi di belakang retina. Jadi, untuk kasus lensa plus ini justru dilakukan dengan menambah ukuran dioptri plusnya agar jarak fokus semakin pendek/maju dan kembali tepat pada retina.&#8221;<br />
&#8220;Mm.. ya..ya..ya..,&#8221; kembali ia mengangguk-anggukan kepalanya. Duuhh..<br />
&#8220;Berarti saya harus cari yang ukuran +2,75 dan +3,25 ya? Kan harus ditambah 0,25?&#8221; lanjutnya.<br />
&#8220;Sebenarnya, nilai perubahan ukuran itu ditentukan dengan perhitungan khusus Mbak. Kita harus menentukan efektif power lensa yang variabelnya lebih sering dipengaruhi oleh ukuran dioptri lensa kacamata (atau hasil pemeriksaan refraksi subyektif) dan jarak lensa kacamata terhadap kornea. Jadi, perubahannya tidak selalu 0,25. Semakin tinggi ukuran dioptri lensa, nilai perubahannya juga akan semakin tinggi.&#8221; Saya berhenti sejenak. Wanita itu masih tetap diam memperhatikan, tapi wajahnya sudah tidak begitu dironai keseriusan. Sepertinya gantian wajah saya yang mulai dironai kelelahan. Tapi saya tetap melanjutkan. &#8220;Biasanya, optikal yang baik akan memiliki semacam tabel konversi yang bisa digunakan untuk menentukan ukuran dioptri lensa kontak untuk pasiennya. Jika tidak, praktisi optikal yang bersertifikat dan memiliki ijasah D3 Refraksi Optisi juga telah memiliki bekal yang cukup untuk menghitung ukuran lensa kontak tersebut.&#8221;<br />
&#8220;Lalu, berapa ukuran lensa kontak yang harus saya pakai?&#8221; Pertanyaan wanita itu membuat saya merasa bahwa ini sudah hampir berakhir.<br />
&#8220;Berdasarkan perhitungan saya, untuk yang kanan nilainya sedikit di atas +2,50 tapi jauh kurang dari +2,75, yang kiri sedikit di atas +3,00 tapi juga masih jauh kurang dari +3,25. Ukuran lensa kontak yang umum beredar di pasaran memiliki step ukuran 0,25 dan 0,50. Jadi kalu Mbak menginginkan yang itu, ambil softlens yang +2,50 dan +3,00. Tapi kalau menginginkan ukuran yang eksak sesuai tabel atau perhitungan, njenengan harus memesannya secara khusus yang mana memerlukan waktu dan biaya yang jauh lebih besar.&#8221;<br />
&#8220;Oke,&#8221; ia mengambil keputusan. &#8220;Saya ambil yang +2,50 dan +3,00 saja. Ada?&#8221; Tueenggg!!<br />
&#8220;Aduh.. maaf Mbak. Kan di awal sudah saya sampaikan kalau softlens yang berukuran plus itu jarang yang menyediakan. Kebetulan saya juga termasuk di dalamnya.&#8221;<br />
&#8220;Waahh.. saya kira punya. Tapi memang agak susah ya nyari softlens berukuran plus. Baiklah, sepertinya saya teruskan pakai kacamata saja dahulu. Tapi tolong pilihkan lensa yang tidak terlalu menggelembung seperti ini ya?&#8221;<br />
Yihuuu&#8230; hati saya bersorak. Sepertinya saya tidak capai sia-sia. Perpanjangan waktunya jadi bertambah sedikit lagi. Tak apa lah. Eh, tapi kalau ada yang kenal istri saya, tolong jangan bilang-bilang tentang cerita di artikel ini ya. Pliiisss..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.optiknisna.info/dioptri-lensa-kontak-tidak-selalu-lebih-kecil-dari-kacamata.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Snellen Chart Dan Optotip Murahan Tidak Layak Diandalkan</title>
		<link>http://www.optiknisna.info/snellen-chart-dan-optotip-murahan-tidak-bisa-diandalkan.html</link>
		<comments>http://www.optiknisna.info/snellen-chart-dan-optotip-murahan-tidak-bisa-diandalkan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 14:45:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paknenisna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<category><![CDATA[Kelainan Penglihatan]]></category>

		<category><![CDATA[kartu snellen]]></category>

		<category><![CDATA[optotip]]></category>

		<category><![CDATA[pemeriksaan mata]]></category>

		<category><![CDATA[snellen chart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://optiknisna.info/snellen-chart-dan-optotip-murahan-tidak-bisa-diandalkan.html</guid>
		<description><![CDATA[Semakin bertambahnya pelaku usaha yang memasuki ranah optikal, ternyata belum diimbangi dengan ketersediaan tenaga ahli yang memiliki pengetahuan memadai di bidang refraksi optisi. Ini menyebabkan masih adanya beberapa (baca: banyak) optik yang menggunakan optotip atau snellen chart yang dibuat secara asal-asalan. Disebut asal-asalan, karena optotip murahan itu dibuat dengan tanpa memperhatikan kaidah atau aturan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semakin bertambahnya pelaku usaha yang memasuki ranah optikal, ternyata belum diimbangi dengan ketersediaan tenaga ahli yang memiliki pengetahuan memadai di bidang refraksi optisi. Ini menyebabkan masih adanya beberapa (baca: banyak) optik yang menggunakan optotip atau <em>snellen chart</em> yang dibuat secara asal-asalan.<span id="more-57"></span> Disebut asal-asalan, karena optotip murahan itu dibuat dengan tanpa memperhatikan kaidah atau aturan yang harus dipenuhi dalam pembuatan huruf-huruf atau lambang-lambang yang menjadi obyek tesnya. Padahal, meskipun banyak optikal yang sudah membanggakan diri dengan tag PERIKSA MATA DENGAN KOMPUTER yang sebenarnya autorefraktometer itu, optotip tetap dibutuhkan untuk prosedur akhir dari pemeriksaan refraksi mata (tentang hal ini silahkan baca <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/hasil-periksa-mata-dengan-komputer-valid-kah.html">artikel yang ini</a>).</p>
<p>Sedikit mengulang isi <a class="post-link" href="http://www.optiknisna.info/pemeriksaan-mata-kok-bisa-diukur-hanya-dengan-huruf-huruf.html">artikel ini</a>, huruf-huruf atau lambang-lambang yang menjadi obyek tes pada optotip harus dibuat sedemikian rupa sehingga ia dapat memberikan sudut penglihatan sentral sebesar 5&#8242; di dalam system optis bolamata. Namun, hanya orang normal yang memiliki sudut penglihatan sentral sebesar 1&#8242; yang akan mampu melihatnya dengan jelas. Artinya, ukuran (tinggi dan atau lebar) huruf/lambang harus mampu memberikan sudut penglihatan sentral sebesar 5&#8242;, sedangkan detail (stroke/coretan/tebal dan celahnya) huruf/lambang harus dibuat agar hanya memberikan sudut penglihatan sentral sebesar 1&#8242;. Berdasarkan kaidah itu, jika misalnya tinggi huruf adalah 40mm (tinggi huruf selalu menjadi acuan, karena optotip ada yang menganut perbandingan 5:5 dan 5:4 untuk ukuran tinggi dan lebar huruf/lambangnya), maka detailnya harus konsisten dengan ukuran 1/5 dari tinggi huruf/lambang tersebut. Jadi, bentuk coretan dan celah huruf/lambang tidak boleh seperti kaligrafi yang tebal tipisnya bervariasi. Sekarang, coba lihat gambar foto sebagian dari <em>snellen chart</em> murahan di bawah ini:<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/optotipmrhn.jpg" align="middle" alt="snellen chart murahan" title="snellen chart murahan" /><br />
Anda bisa melihat bahwa detail huruf-hurufnya nampak belepotan, ada bagian yang lebih tebal dari pada bagian yang lain. Jika masih kurang mudah untuk mengetahui ketidakberesan <em>snellen chart</em> pada foto di atas, silahkan bandingkan dengan bentuk dan detail huruf yang lebih konsisten di bawah ini:<br />
<img class="centered" src="http://www.optiknisna.info/wp-content/pict/optotipsip.jpg" align="middle" alt="detail huruf optotip yang baik" title="detail huruf optotip yang baik" /><br />
Pemeriksaan dengan menggunakan optotip ini sangat mengandalkan respon dari pasien. Pemeriksa biasanya akan menyuruh pasien untuk menyebutkan huruf-huruf tersebut satu persatu. Detail huruf yang tidak konsisten bisa membuat huruf tersebut tidak tampak jelas bagi pasien. Ini akan direspon oleh pemeriksa dengan menambah ukuran lensa yang dipasang di depan mata pasien. Padahal, jika detail hurufnya konsisten, bisa jadi huruf tersebut akan tampak jelas bagi pasien. Kasus seperti inilah yang bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya koreksi berlebih (<em>over correction</em>). Hal yang sebaliknya pun dapat saja terjadi. Karena detail huruf yang tidak konsisten sehingga ada bagian yang memberi sudut penglihatan sentral lebih dari 1&#8242;, maka pasien jadi bisa menebak huruf tersebut sehingga pemeriksa menganggap ukuran lensa yang diberikannya sudah cukup. Ini akan menjadi penyebab kekurangan koreksi (<em>under correction</em>) karena jika saja detail huruf tersebut konsisten, bisa jadi pasien tidak akan dapat menebaknya.</p>
<p>Saya jadi teringat satu prinsip yang selalu saya tekankan pada rekan-rekan mahasiswa ARO (Akademi Refraksi Optisi) yang menempatkan saya sebagai salah satu pembimbing mereka: <strong>prosedur yang benar + perangkat yang benar + kemampuan yang baik = hasil pemeriksaan yang benar.</strong> Lalu, apa gunanya prinsip itu untuk pasien (baca: masyarakat umum) yang akan diperiksa? Sederhana, sebaiknya yakinkan dahulu apakah optotip yang digunakan untuk memeriksa anda memang layak diandalkan. Ibarat membeli minyak, jika anda tidak bisa menerima minyak yang anda beli ditakar dengan penakar liter yang penyok-penyok, tentunya mata anda jauh lebih berharga untuk ditakar dengan huruf yang penyok-penyok pula.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.optiknisna.info/snellen-chart-dan-optotip-murahan-tidak-bisa-diandalkan.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 1.295 seconds -->
